A.Sejarah dan
Asal Muasal Propinsi Jambi
Di Swarnadwipa (pulau emas) atau Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas
wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901 M). Kesultanan ini memang
tidak berhubungan secara langsung dengan dua kerajaan Hindu-Buddha pra-Islam.
Sekitar abad ke 6 – awal 7 M, berdiri Kerajaan Melayu (Melayu Tua) yang
terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Catatan Dinasti
Tang mengatakan bahwa awal abad ke 7 M dan lagi pada abad ke 9 M, Jambi
mengirim duta/utusan ke Empayar China (Wang Gungwu 1958; 74). Kerajaan ini
bersaing dengan Sri Wijaya untuk menjadi pusat perdagangan.
Letak Malayu yang lebih dekat ke
jalur pelayaran Selat Melaka menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga
perlu menyerang Malayu yang akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya. Muaro Jambi,
sebuah kompleks percandian di hilir Jambi mungkin dulu bekas pusat belajar
agama Buddha sebagaimana catatan dari pendeta China I-Tsing yang berlayar dari
India pada tahun 671 M. Ia belajar di Sri Wijaya selama 4 tahun dan kembali
pada tahun 689 Masehi bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang
ziarah Buddha. Saat itulah ia menuulis bahwa Kerajaan Malayu kini telah menjadi
bagian dari Sri Wijaya.Setelah Sri Wijaya mulai pudar di abad ke 11 Masehi, ibu negeri dipindahkan ke Jambi (Wolters 1970: 2). Inilah Kerajaan Melayu (Melayu Muda) atau Dhamasraya yang berdiri di Muara Jambi. Sebagai sebuah bandar yang besar, Jambi juga menghasilkan berbagai rempah-rempahan dan kayu-kayuan. Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka membeli kapas, kain dan pedang. Dari Cina, sutera dan benang emas, sebagai bahan baku kain tenun songket (Hirt & Rockhill 1964; 60-2). Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singosari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singosari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung (pedalaman Minang atau Suruaso) dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347 M. Kemudian di abad ke 15, Islam mulai menyebar di Nusantara.
Kesultanan Jambi
“Tanah Pilih Pesako Betuah”. Seloka ini tertulis di lambang Kota Jambi. Dimana menurut orang tua-tua pemangku adat Melayu Jambi, kononnya Tuanku Ahmad Salim dari Gujarat (India) berlabuh di selat Berhala, Jambi dan mengislamkan orang-orang Melayu disana. Beliau bernama lengkap Syeikh Ahmad Salim bin Syeikh Sultan Al-Ariffin Sayyid Ismail. Beliau masih keturunan dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Di tempat baru ini, ia membangun pemerintahan baru dengan dasar Islam, bergelar Datuk Paduko Berhalo dan menikahi seorang putri dari Minangkabau bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka dikurniakan empat orang anak, kesemuanya menjadi datuk wilayah sekitar kuala tersebut. Adapun putra bungsu yang bergelar Orang Kayo Hitam berniat untuk meluaskan wilayah hingga ke pedalaman, jika ada tuah, membangun sebuah kerajaan baru. Maka ia lalu menikahi anak dari Temenggung Merah Mato bernama Putri Mayang Mangurai. Oleh Temenggung Merah Mato, anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako. Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan agar menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru itu dan bahwa tempat yang akan dipilih sebagai tapak kerajaan baru nanti haruslah tempat dimana sepasang angsa bawaan tadi mau naik ke tebing dan mupur (berdiam) di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua angsa naik ke darat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya, maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut “Tanah Pilih”, dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.
Asal Nama “Jambi”
‘Jambi’ berasal dari kata ‘Jambe’ dalam bahasa Jawa yang berarti ‘Pinang’. Kemungkinan besar saat Tanah Pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan yang baru, pepohonan pinang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.
Namun dari penjelasan di atas, ada versi lain yang menyebutkan bahwa kata Jambi itu justru berasal dari bahasa Arab yang di tulis dalam tulisan Arab (huruf Hijaiyah) dengan makna sahabat akrab. Demikian info dari teman bloger saya yang bernama Ridcho:
“Berpedoman pada buku sejarah De Oudste Geschiedenis van de Archipel bahwa Kerajaan Melayu Jambi dari abad ke 7 s.d. abad ke 13 merupakan bandar atau pelabuhan dagang yang ramai. Disini berlabuh kapal-kapal dari berbagai bangsa, seperti: Portugis, India, Mesir, Cina, Arab, dan Eropa lainnya. Berkenaan dengan itu, sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago menceritakan bahwa sebelum Kerajaan Melayu jatuh ke dalam pengaruh Hindu, seorang puteri Melayu bernama Puteri Dewani berlayar bersama suaminya dengan kapal niaga Mesir ke Arab, dan tidak kembali. Pada waktu lain, seorang putri Melayu lain bernama Ratna Wali bersama suaminya berlayar ke Negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani dengan kapal niaga Arab. Kedua peristiwa dalam legenda itu menunjukkan adanya hubungan antara orang Arab dan Mesir dengan Melayu. Mereka sudah menjalin hubungan komunikasi dan interaksi secara akrab.
Kondisi tersebut melahirkan interpretasi bahwa nama Jambi bukan tidak mungkin berasal dari ungkapan-ungkapan orang Arab atau Mesir yang berkali-kali ke pelabuhan Melayu ini. Orang Arab atau Mesir memberikan julukan kepada rakyat Melayu pada masa itu sebagai ”Jambi”, ditulis dengan aksara Arab yang secara harfiah berarti ’sisi’ atau ’samping’, secara kinayah (figuratif) bermakna ’tetangga’ atau ’sahabat akrab’.”
Demikianlah pendapat yang kedua, dengan alasan jika memang dulunya Orang Kayo Hitam menyebut pinang dengan kata jambe seharusnya putri pinang masak itu namanya Putri Jambe Masak. Jadi menurut saya (pendapat teman bloger saya yang bernama M.Isa. Ansyori) kata jambi itu bukannlah diambil dari bahasa Jawa, mengingat hingga sekarang masyarakat Jambi dari dulu tetap menyebut pinang dengan istilah pinang, tidak pernah menyebutnya dengan kata jambe, kecuali orang Jawa yang sudah tinggal di Jambi yang menyebutnya dengan kata jambe.
Keris Siginjai
Hubungan Orang Kayo Hitam dengan Tanah Jawa digambarkan dalam cerita orang tuo-tuo yang mengatakan bahwa Orang Kayo Hitam pergi ke Majapahit untuk mengambil Keris bertuah, dan kelak akan menjadikannya sebagai keris pusaka Kesultanan Jambi. Keris itu dinamakan ‘Keris Siginjai’. Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun, keris Siginjai tidak hanya sekedar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi.
Keris
Siginjai
Sultan terakhir yang memegang
benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain
keris Siginjai, ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu
keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun
1903M Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir
menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda
penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan
Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).Slogan Jambi: “Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah”
Logo
Propinsi Jambi
Seloka ini tertulis di lambang
Propinsi Jambi, menggambarkan luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang
merangkumi sembilan lurah dikala pemerintahan Orang Kayo Hitam, yaitu : VIII-IX
Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan.
Ada juga yang berpendapat bahwa wilayah Kesultanan Jambi dahulu meliputi 9 buah
lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama : 1.
Batang Asai 2. Batang Merangin 3. Batang Masurai 4. Batang Tabir 5. Batang
Senamat 6. Batang Jujuhan 7. Batang Bungo 8. Batang Tebo dan 9. Batang Tembesi.
Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu
merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi.Senarai (silsilah) Sultan Jambi (1790-1904)
1). 1790 – 1812 Mas’ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
2). 1812 – 1833 Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
3). 1833 – 1841 Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat
4). 1841 – 1855 Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud
5). 1855 – 1858 Thaha Safiuddin bin Muhammad (1st time)
6). 1858 – 1881 Ahmad Nazaruddin bin Mahmud
7). 1881 – 1885 Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman
8). 1885 – 1899 Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad
9). 1900 – 1904 Thaha Safiuddin bin Muhammad (2nd time)
10). 1904 Dihancurkan Belanda
Provinsi Jambi
Wilayah propinsi Jambi hari ini pun terbagi atas 1 Bandar Ibukota (Jambi) dan 9 daerah – mungkin agar sesuai seloka adat tadi-. Tetapi nama daerahnya telah bertukar, Yaitu :
1). Muara Jambi – beribunegeri di Sengeti
2). Bungo – beribunegeri di Muaro Bungo
3). Tebo – beribunegeri di Muaro Tebo
4). Sarolangun – beribunegeri di Sarolangun Kota
5). Merangin/Bangko – beribunegeri di Kota Bangko
6). Batanghari – beribunegeri di Muara Bulian
7). Tanjung Jabung Barat – beribunegeri di Kuala Tungkal
8). Tanjung Jabung Timur – beribunegeri di Muara Sabak
9). Kerinci – beribunegeri di Sungai Penuh
Pada akhir abad ke 19, di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan Pemerintahan Kerajaan.
Wilayah administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah sebagaimana tertuang dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo” yang artinya: Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sembilan lurah yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yaitu daerah teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.
Secara geografis keseluruhan daerah Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni:
* Daerah Huluan Jambi: meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.
* Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.
* Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu peraturan pemerintahan desa di luar Jawa dan Madura, di Jambi sudah dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pemerintahan umum, pengadilan, kepolisian, dan sumber keuangan.
* Pemerintahan marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga juga memimpin pengadilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah pemerintahan marga terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh penghulu atau kepala dusun atau Kepala Kampung.
* Pada masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu: Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur, Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat, Karesidenan Palembang, Karesidenan Bengkulu, Karesidenan Lampung, dan Karesidenan Bangka Belitung.
* Khusus Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam pemerintahannya dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten residen dengan mengkoordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.
* Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerinci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan penduduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.
* Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa suku ini merupakan keturunan dari percampuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut sebagai suku Weddoid.
Suku
Anak Dalam (Suku Kubu)
* Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang
jinak dan liar. Sebutan “jinak” diberikan kepada golongan yang telah
dimasyarakatkan, memiliki tempat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata
cara pertanian. Sedangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih
berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum
mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali
masih tertutup.* Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarangannya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup masyarakat desa.
* Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kampung, dsb.
* Pakaian. Pada awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.
* Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang. Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Turun Mandi, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, Ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.
Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:
1). Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
2). Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila.
3). Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
4) Keris, melambangkan kepahlawanan dan Kejuangan;
5). Gong, melambangkan jiwa musyawarah dan Demokrasi.
B. Rumah Adat
Rumah adat Jambi dinamakan Rumah Panggung dengan model kajang lako. Rumah adat tersebut merupakan rumah tinggal yang terbagi dalam 8 ruangan. Ruangan tersebut adalah: pertama Jogan, merupakan tempat istirahat dan menaruh air. Kedua Serambi Depan, merupakan ruangan untuk tamu laki-laki juga ruangan untuk mengaji anak-anak lelaki. Ketiga, Serambi Dalam yang merupakan tempat tidur bagi anak-anak lelaki. Keempat, Ameben Melintang yang merupakan kamar pengantin. Kelima, Serambi Belakang yang merupakan kamar tidur bagi anak-anak gadis. Keenam, Laren yang merupakan tempat menerima tamu wanita dan kegiatan anak-anak remaja putri. Ketujuh, Garang yang merupakan ruangan untuk menumbuk padi sekaligus tempat untuk menampung air. Kedelapan adalah dapur. Ada pula ruangan yag disebut Tengganai, yaitu ruangan yang digunakan untuk pertemuan kaum/ninik mamak.
Rumah adat Jambi dinamakan Rumah Panggung dengan model kajang lako. Rumah adat tersebut merupakan rumah tinggal yang terbagi dalam 8 ruangan. Ruangan tersebut adalah: pertama Jogan, merupakan tempat istirahat dan menaruh air. Kedua Serambi Depan, merupakan ruangan untuk tamu laki-laki juga ruangan untuk mengaji anak-anak lelaki. Ketiga, Serambi Dalam yang merupakan tempat tidur bagi anak-anak lelaki. Keempat, Ameben Melintang yang merupakan kamar pengantin. Kelima, Serambi Belakang yang merupakan kamar tidur bagi anak-anak gadis. Keenam, Laren yang merupakan tempat menerima tamu wanita dan kegiatan anak-anak remaja putri. Ketujuh, Garang yang merupakan ruangan untuk menumbuk padi sekaligus tempat untuk menampung air. Kedelapan adalah dapur. Ada pula ruangan yag disebut Tengganai, yaitu ruangan yang digunakan untuk pertemuan kaum/ninik mamak.
C. Pakaian Adat
Pria dari Jambi memakai mahkota dan kalung bersusun.
Ia juga memakai pending dengan keris terselip di depan perut serta gelang emas
pada kedua belah lengan dan tangan. Baju dan celananya bersuji dengan model
yang khas dan kain songket melingkar di tengah badan.
Pakaian yang dipakai wanitanya serupa benar dengan
sang pria seperti mahkota, kalung bersusun, pending serta gelang emas pada
kedua belah lengan, tangan dan kaki. Ia juga memakai baju kurung serta kain
songket. Pakaian ini dipakai untuk upacara pernikahan.
D. Tari-tarian
Daerah Jambi
Sebelum
jejaka melamar maka, pihak jejaka umumnya akan mengadakan
pemanatuan (biasanya oleh tante tertua dari jejaka) terlebih dahulu terhadap
calon permaisuri dan besan. Jika hasilnya sesuai dengan yang diharapkan
maka keluarga jejeka dengan membawa sirih pinang, susu, kopi, gula,
tepung terigu, dan sebagainya untuk melakukan acara lamaran. Jika lamaran
diterima oleh pihak gadis (terjadi kesefahaman) maka diadakan acara
“pertunangan”, untuk itu pihak jejaka/lelaki menyerahkan (1) Pakaian
sepelulusan yang berupa bahan kebaya untuk akad, dan kain bawahan, bisa berupa
batik atau songket. Terkadang juga dilengkapi selop dan dompet. (2) Cincin
pengikat cincin ini hanya untuk dipakai wanita, bukan satu pasang. Karena,
tukar cincin baru akan dilakukan saat akad nikah nanti, yang ke (3) Sirih
Pinang berupa perlengkapan untuk makan sirih, berupa daun sirih, kapur sirih,
tembakau, serta pinang, yang diletakkan di tempat sirih khusus sebagai
“tando” (Upacara mengantar tando) hal ini dimaksudkan sebagai tanda bahwa sang
gadis sudah punya ikatan dengan si jejaka.
a. Tari Sekapur Sirih, merupakan tari persembahan.
Tari adat Jambi ini banyak persamaannya dengan tari Melayu.
b. Tari Selampit Delapan, merupakan tari pergaulan
muda-mudi dan sangat digemari di daerah Jambi.
c. Tari Rangguk, tarian Jambi yang lincah untuk
menyambut tamu.
d. Skin adalah sejenis keris kecil. Sesuai dengan namanya,
tari "skin" menggambarkan ketangkasan kaum wanita dalam ulah
keprajuritan. Tari ini merupakan tari kreasi yang tetap memanfaatkan
perbendaharaan gerak tari tradisi.
Tari Sekapur
Sirih
|
E. Senjata
Tradisional
Keris merupakan senjata tradisional di Jambi. Keris
yang bentuknya lurus, dinamakan badik tumbuk lada. Keris ini banyak dan
terdapat dimana-mana. Hulunya terbuat dari kayu atau tanduk dan wilayahnya
lurus. Selain itu terdapat pula keris dengan wilahan yang berlekuk. Senjata
lainnya adalah tombak, pedang dan sumpit.
F. Bahasa Yang Dipakai Daerah Jambi
Jambi adalah
salah satu pemakai asli Bahasa Melayu. Hal ini dapat dilihat dari hasil
penelitian kepurbakalaan dan sejarah. Bahasa Jambi dalam arti kata
bahasa-bahasa yang ada di Jambi, selain Bahasa Indonesia, pada dasarnya
juga berasal dari bahasa Melayu yang telah mengalami perkembangan-perkembangan
dan perubahan-perubahan sesuai dengan pengaruh yang diterimanya dari
bahasa-bahasa lain. Di lain pihak bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional juga
berasal dari bahasa Melayu yang telah pula mengalami proses perkembangan dan
perubahan sebab akibat dari masuknya anasir-anasir bahasa lain. Dengan demikian
bahasa Jambi dan Bahasa Indonesia mempunyai dasar yang sama, ialah bahasa
Melayu.
Dialek-dialek
yang ada suatu aspek pemakain bahasa oleh setiap kelompok persukuan dalam sautu
daerah, seringkali menunjukkan adanya perbedaan yang besar secara horizontal.
Dalam bahasa Jawa misalnya, jelas ada perbedaan-perbedaan antara bahasa Jawa
yang diucapkan di Purwokerto, dan Tegal, dan Kebumen, di Surakarta atau
Surabaya. Begitu pula dengan bahasa Jambi yang diucapkan di Lingkungan daerah
Kerinci berbeda dengan bahasa Jambi diucapkan di daerah Suku Anak Dalam (Kubu),
atau di Lingkungan daerah Melayu Jambi dan sebagainya. Bahasa yang berbeda
secara horizontal itulah yang kita sebut dengan istilah dialek.Dialek-dialek
yang dikenal di daerah Jambi dapat dikategorikan ke dalam beberapa macam,
yaitu: dialek Suku Anak Dalam, dialek Melayu Jambi, dialek Kerinci, dialek
orang Batin, dialek Suku Pindah, Dialek orang-orang Penghulu, dan dialek Bajau.
G. Lagu Daerah Provinsi Jambi
Batanghari
Batanghari
aeknyolah tenang
Biakpun tenang deraslah ketepi
Anaklahnyo Jambi jangan lah di kenang
Siang tebayang bamimpi malam lah bamimpi
Anaklah Jambi jangan lah di kenang
Siang tebayang bamimpi malam lah bamimpi
Jalanlah jalan ke Ojong Jabong
Singgah sebentar di Penyaguan
Oy rindu dan dendam dik oy idaklah tetanggong
Budi setitik kenang jadilah kenangan
Rindu dan dendam dik oy idaklah tetanggong
Budi setitik kenang jadilah kenangan
Biakpun tenang deraslah ketepi
Anaklahnyo Jambi jangan lah di kenang
Siang tebayang bamimpi malam lah bamimpi
Anaklah Jambi jangan lah di kenang
Siang tebayang bamimpi malam lah bamimpi
Jalanlah jalan ke Ojong Jabong
Singgah sebentar di Penyaguan
Oy rindu dan dendam dik oy idaklah tetanggong
Budi setitik kenang jadilah kenangan
Rindu dan dendam dik oy idaklah tetanggong
Budi setitik kenang jadilah kenangan
Pegi besantai ke Tanggo Rajo
Nampaklah jelas Jambi Seberang
Maulah ku pinang dek oy apolah kan dayo
Sudahlah nasib orang diambeklah orang
Maulah ku pinang dek oy apolah kan dayo
Sudahlah nasib orang diambeklah orang
Batanghari kebanggaan Jambi
Sungai tepanjang sebatas negeri
Pojoklahnyo hati dek oy bawaklah menari
Mari berjoget lagu si Batang Hari
Pojoklah hati dek oy bawaklah menari
Mari berjoget lagu si Batang Hari
Nampaklah jelas Jambi Seberang
Maulah ku pinang dek oy apolah kan dayo
Sudahlah nasib orang diambeklah orang
Maulah ku pinang dek oy apolah kan dayo
Sudahlah nasib orang diambeklah orang
Batanghari kebanggaan Jambi
Sungai tepanjang sebatas negeri
Pojoklahnyo hati dek oy bawaklah menari
Mari berjoget lagu si Batang Hari
Pojoklah hati dek oy bawaklah menari
Mari berjoget lagu si Batang Hari
H. Prosesi Pernikahan Adat Jambi
1.Tahap Meminang/Melamar
Sebelum
jejaka melamar maka, pihak jejaka umumnya akan mengadakan
pemanatuan (biasanya oleh tante tertua dari jejaka) terlebih dahulu terhadap
calon permaisuri dan besan. Jika hasilnya sesuai dengan yang diharapkan
maka keluarga jejeka dengan membawa sirih pinang, susu, kopi, gula,
tepung terigu, dan sebagainya untuk melakukan acara lamaran. Jika lamaran
diterima oleh pihak gadis (terjadi kesefahaman) maka diadakan acara
“pertunangan”, untuk itu pihak jejaka/lelaki menyerahkan (1) Pakaian
sepelulusan yang berupa bahan kebaya untuk akad, dan kain bawahan, bisa berupa
batik atau songket. Terkadang juga dilengkapi selop dan dompet. (2) Cincin
pengikat cincin ini hanya untuk dipakai wanita, bukan satu pasang. Karena,
tukar cincin baru akan dilakukan saat akad nikah nanti, yang ke (3) Sirih
Pinang berupa perlengkapan untuk makan sirih, berupa daun sirih, kapur sirih,
tembakau, serta pinang, yang diletakkan di tempat sirih khusus sebagai
“tando” (Upacara mengantar tando) hal ini dimaksudkan sebagai tanda bahwa sang
gadis sudah punya ikatan dengan si jejaka.
Prosesi lamaran
biasanya berupa seloko-seloko (seperti berbalas pantun) antar wakil keluarga
terlebih dahulu, yang kira-kira isinya adalah menanyakan maksud dan tujuan
keluarga laki laki bertamu ke keluarga wanita. Setelah itu, prosesi lamaran itu
sendiri, berupa pemasangan cincin ke calon pengantin wanitanya. Kemudian
dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah selesai makan, maka dilakukan
perundingan keluarga inti, dimana membicarakan tentang kelanjutan lamaran tadi,
berupa, pembicaraan tanggal, adat dll. Pembicaraan yang dilakukan antara lain:
Tanggal pernikahan. Apakah upacara pernikahan akan dilaksanakan sepanen jagung
(3 bulan) sepanen padi (6 bulan) atau yang lain Adat yang digunakan. Apakah
menggunakan pure adat jambi, atau ada campurannya lalu Seserahan. Apa saja
hantaran yang akan diberikan keluarga laki laki. Uang adat uang adat disini
ada 2, yaitu uang adat, dan uang selemak semanis. Klo uang adat, biasanya
kecil, berkisar 50-100 ribu saja, nah, uang selemak semanis ini yang cukup
besar, disesuaikan dgn kemampuan keluarga laki laki. Uang selemak semanis ini,
merupakan urunan atau membantu belanja untuk acara resepsi pernikahan nanti.
2.Persiapan Pernikahan
Dua malam
menjelang hari “H”, masing-masing calon mempelai mempersiapkan diri untuk
mengikuti prosesi malam batangas, yaitu semacam mandi uap hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi keluarnya keringat pada upacara hari “H” nanti,
selain itu juga calon mempelai wanita menjalani malam berinai,
memeriahkan kuku-kukunya dengan daun pacar.
3.Upacara Pernikahan
Umumnya
berlangsung dikediaman wanita, diawali dengan penjemputan CMP (Calon Mempelai
Pria) kerumahnya, CMP disertai ortu, keluarga dan kerabat menuju rumah
CMW (Calon Mempelai Wanita) dengan iringan rebana dan pencak
silat. Sesampainya dirumah CMW, mereka ditaburi beras kuning kemudian CMP
dipersilahkan duduk diatas kasur kecil/kain permadani untuk persiapan menghadap
penghulu. Sebelum prosesi Akad Nikah, CMW akan menunjukkan kemahirannya
membaca Al-Qur’an.5
4.Upacara Serah Terima Penganten
Dilaksanakan setelah Ijab Kabul, dengan diawali dengan datangnya beberapa
utusan nenek mamak pihak si gadis dengan membawa berbagai barang ketempat
mempelai pria, lalu dengan iringan musik rabana dan kompangan (alat musik khas
Jambi) pengantin pria diarak menuju kediaman pengantin wanita, dengan di
dampingi nenek mamak-nya menuju kamar pengantin wanita, pada saat itulah
dicegat oleh keluarga pihak pengantin wanita (tahapan ini disebut membuka
lanse) sehingga terjadilah dialog secara spontan namun penuh dengan
petatah-petitih yang mempunya makna yang sakral, setelah proses itu barulah
kedua pengantin disandingkan diatas putro ratno / pelaminan.
5.Lamaran
Lamaran ini di Jambi, disebut sebagai anter tando. Sebelum diadakan acara lamaran, biasanya akan ada utusan dari pihak laki laki, yg akan bertanya, ataupun bersilahturahmi ke keluarga wanita. Utusan ini akan mencari tau, apakah wanita nya sudah ada yg melamar. Setelah itu, baru akan dilakukan prosesi lamaran.
Lamaran ini biasanya dihadiri tuo tengganai dari kedua belah pihak keluarga. Pada saat lamaran, keluarga laki laki akan membawa syarat adat, diantaranya:
• Cincin pengikat. Cincin ini hanya untuk dipakai wanita, bukan satu pasang. Karena, tukar cincin baru akan dilakukan saat akad nikah nanti.
• Pakaian sepelulusan. Berupa bahan kebaya untuk akad, dan kain bawahan, bisa berupa batik atau songket. Terkadang juga dilengkapi selop dan dompet.
• Sirih Pinang. Berupa perlengkapan untuk makan sirih, berupa daun sirih, kapur sirih, tembakau, serta pinang, yang diletakkan di tempat sirih khusus.
Prosesi lamaran biasanya berupa seloko seloko (seperti berbalas pantun) antar wakil keluarga terlebih dahulu, yang kira2 isinya adalah menanyakan maksud dan tujuan keluarga laki laki bertamu ke keluarga wanita. Setelah itu, prosesi lamaran itu sendiri, berupa pemasangan cincin ke calon pengantin wanitanya. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah selesai makan, maka dilakukan perundingan keluarga inti, dimana membicarakan tentang kelanjutan lamaran tadi, berupa, pembicaraan tanggal, adat dll.
Pembicaraan yang dilakukan antara lain:
• Tanggal pernikahan. Apakah upacara pernikahan akan dilaksanakan sepanen jagung (3 bulan) sepanen padi (6 bulan) atau yang lain
• Adat yang digunakan. Apakah menggunakan pure adat jambi, atau ada campurannya.
• Seserahan. Apa saja hantaran yang akan diberikan keluarga laki laki.
• Uang adat. Uang adat disini ada 2, yaitu uang adat, dan uang selemak semanis. Klo uang adat, biasanya kecil, berkisar 50-100 ribu saja, nah, uang
selemak semanis ini yang cukup besar, disesuaikan dgn kemampuan keluarga laki laki. Uang selemak semanis ini, merupakan urunan atau membantu belanja untuk acara resepsi pernikahan nanti.
Lamaran ini di Jambi, disebut sebagai anter tando. Sebelum diadakan acara lamaran, biasanya akan ada utusan dari pihak laki laki, yg akan bertanya, ataupun bersilahturahmi ke keluarga wanita. Utusan ini akan mencari tau, apakah wanita nya sudah ada yg melamar. Setelah itu, baru akan dilakukan prosesi lamaran.
Lamaran ini biasanya dihadiri tuo tengganai dari kedua belah pihak keluarga. Pada saat lamaran, keluarga laki laki akan membawa syarat adat, diantaranya:
• Cincin pengikat. Cincin ini hanya untuk dipakai wanita, bukan satu pasang. Karena, tukar cincin baru akan dilakukan saat akad nikah nanti.
• Pakaian sepelulusan. Berupa bahan kebaya untuk akad, dan kain bawahan, bisa berupa batik atau songket. Terkadang juga dilengkapi selop dan dompet.
• Sirih Pinang. Berupa perlengkapan untuk makan sirih, berupa daun sirih, kapur sirih, tembakau, serta pinang, yang diletakkan di tempat sirih khusus.
Prosesi lamaran biasanya berupa seloko seloko (seperti berbalas pantun) antar wakil keluarga terlebih dahulu, yang kira2 isinya adalah menanyakan maksud dan tujuan keluarga laki laki bertamu ke keluarga wanita. Setelah itu, prosesi lamaran itu sendiri, berupa pemasangan cincin ke calon pengantin wanitanya. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah selesai makan, maka dilakukan perundingan keluarga inti, dimana membicarakan tentang kelanjutan lamaran tadi, berupa, pembicaraan tanggal, adat dll.
Pembicaraan yang dilakukan antara lain:
• Tanggal pernikahan. Apakah upacara pernikahan akan dilaksanakan sepanen jagung (3 bulan) sepanen padi (6 bulan) atau yang lain
• Adat yang digunakan. Apakah menggunakan pure adat jambi, atau ada campurannya.
• Seserahan. Apa saja hantaran yang akan diberikan keluarga laki laki.
• Uang adat. Uang adat disini ada 2, yaitu uang adat, dan uang selemak semanis. Klo uang adat, biasanya kecil, berkisar 50-100 ribu saja, nah, uang
selemak semanis ini yang cukup besar, disesuaikan dgn kemampuan keluarga laki laki. Uang selemak semanis ini, merupakan urunan atau membantu belanja untuk acara resepsi pernikahan nanti.
I. Makanan Tradisional Khas Jambi
1.
Tempoyak
Tempoyak adalah masakan yang berasal dari buah
durian yang difermentasi. Tempoyak merupakan makanan yang
biasanya dikonsumsi sebagai lauk teman nasi. Tempoyak juga dapat dimakan
langsung (hal ini jarang sekali dilakukan, karena banyak yang tidak tahan
dengan keasamandan aroma dari tempoyak itu sendiri).
2. Gulai Tepek Ikan
2. Gulai Tepek Ikan
Gulai Tepek Ikan yang berbahan dasar ikan gabus
ini merupakan makanan bersejarah dan hanya dihidangkan pada momen penting,
seperti perkawinan, kenduri, acara adat dan jamuan menyambut tamu istimewa. dan
selain gulai tepek ikan ini jambi juga memiliki tempoyak sebagai kuliner khas
yang lain.
3. Sup Tulang
3. Sup Tulang
Sup tulang ini, kuahnya bening dan ditaburi daun
bawang serta bawang goreng. Daging sapinya empuk dan terasa lezat, sebenarnya
mirip sup iga. lama merebus daging kira-kira 4-5 jam, makanya daging bisa
terasa empuk.Sop Tulang ini sangat mantap kali disantap dengan nasi putih
diwaktumengalami hujan lebat.
4. Nasi Gemuk
4. Nasi Gemuk
Sama seperti nasi uduk bahan dasaruntuk membuat
nasi gemuk adalah beras, santan, daun pandan, daun salam, dan daun jeruk serta
beberapa rempah-rempah lainnya. Pada dasarnya sama dengan bahan dasar dari nasi
uduk hanya saja sedikit perbedan ada pada pelengkapnya saja. Nah sobat demikian
tulisan saya tentang Makanan Khas Provinsi Jambi Semoga bisa menambah
pengetahuan kita tentang khazanah tanah air kita tercinta, Indonesia terutama
Makanan Khas Provinsi Jambi
J. Alat Musik Tradisional Daerah Jambi
1. Serangko
Serangko adalah sejenis alat musik tiup yang terbuat dari tanduk kerbau. Panjang alat musik Serangko ini mencapai 1 meter - 1,5 meter. Pada zaman dahulu alat musik Serangko ini digunakan oleh komandan perang untuk memberikan komando. Selain fungsi itu, Serangko juga digunakan untuk pemberitahuan ketika ada musibah kematian yang menimpa salah satu masyarakat di Jambi.
2. Gangor / Cangor
Gangor Cangor merupakan alat musik tradisional Jambi yang terbuat dari
bambu. Cangor merupakan alat musik sitar tabung, termasuk kelompok alat
musik idio-kordofon. Alat musik ini biasanya dimainkan sebagai pelepas lelah
bagi petani ketika sedang istirahat. Cangor banyak ditemukan di Kabupaten
Sarolangun, Merangin, Bungo, Tebo dan Kerinci.
3. Puput Kayu
Jika di
Sumatera Barat kita mengenal alat musik Puput Serunai, di Jambi ada yang namanya Puput Kayu. Puput
Kayu ini adalah sejenis alat musik tradisional Jambi yang terbuat dari
kayu. Alat musik Puput Kayu tergolong alat musik tiup. Puput Kayu
ini sejenis serunai yang dilengkapi lidah-lidah sebagai alat bantu tiup, pada badan
puput kayu terdapat tujuh lubang nada. Puput kayu dimainkan sebagai pelengkap
alat kesenian pada saat mengiringi lagu dan tarian tradisional Jambi.
4. Gendang Melayu Jambi
Gendang Melayu Jambi memiliki
karakteristik bentuk maupun bunyi yang khas dibandingkan dengan
gendang dari daerah lainnya. Gendang Melayu Jambi
terbuat dari bongkot kelapa dan kulit binatang ternak
seperti kambing. Jalinan rotan berfungsi untuk mengencangkan kulit gendang tersebut. Gendang
dimainkan dengan cara dipukul menggunakan kedua tangan sambil dipeluk dalam
posisi duduk. Agar bunyinya lebih nyaring pada lingkaran kulit bagian dalam
dipasak dengan menggunakan
rotan bulat disebut sentung. Diprovinsi
Jambi gendang ini lazimnya digunakan untuk polaritme lagu-lagu
daerah serta pengiring tari,serta lagu-lagu melayu Jambi lainnya.
5. Gambus Jambi
Gambus adalah alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Timur Tengah. Paling sedikit gambus
dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus
dimainkan sambil diiringi gendang.
Sebuah orkes memakai alat musik utama berupa gambus dinamakan orkes gambus atau disebut gambus saja. Di Jambi kita dapat menemukan
alat musik Gambus ini.
6. Sekdu
Sekdu adalat Instrumen atau alat
musik tradisional Jambi yang dimainkan dengan cara ditiup dan dibuat dari bambu
dengan diamater 1,5 cm. Namun dibagian peniupnya terbuat dari kayu yang
biasanya disebut dengan klep peniup. Nada yang dihasilkan oleh Sekdu ini hanya
terdiri dari nada do, re, mi, sol dan la, sehingga Sekdu ini disebut alat musik
pentatonis atau selendro. Sekdu biasanya digunakan oleh masyarakat melayu tua
dalam acara-acara upacara adat.
7. Kelintang Kayu
Di Jambi kita juga dapat menemui alat musik yang disebut Kelintang Kayu.
Kelintang kayu juga termasuk alat musik tradisional Jambi yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang dimainkan dengan cara dipukul.
Di Jambi kita juga dapat menemui alat musik yang disebut Kelintang Kayu.
Kelintang kayu juga termasuk alat musik tradisional Jambi yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang dimainkan dengan cara dipukul.